Cerpen Petra Shandi
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar alunan irama Ketuk Tilu [1]mengiringi para Penari kesenian tradisional Sisingaan[2]. Meski peluh membasahi wajah, Cecep masih bisa bersemangat tersenyum sambil memainkan odong-odong berbentuk boneka singa itu. Arak-arakan melelahkan hampir satu km tidak dirasakannya lagi saat melihat antusias warga yang turun ke jalan hanya untuk melihat aksiSisingaan dari Grup kesenian Bunihayu . Diantara penonton itu nampak Sri yang menyaksikan penuh takjub melihat kelincahan Cecep beratraksi memainkan Sisingaan-nya. Pemuda itu tahu Sri pasti sedang memperhatikan dirinya saat ini. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa permainannya begitu bagus.
“Capek Kang?” Sri menyodorkan segelas besar air teh padanya.
“Ah, Akang[3] mah sudah biasa Neng, gak terasa capeknya” Cecep tersenyum seraya menerima gelas yang disodorkan Sri.


